Hutang anda konsumtif atau produktif
“Hutang produktif adalah hutang yang digunakan untuk kegiatan produktif dan
dapat digunakan untuk menciptakan nilai tambah, sedangkan hutang konsumtif
adalah hutang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dan tidak
memiliki nilai produktif.”
Dalam lingkup keuangan pribadi
pengertian hutang adalah kewajiban yang timbul kepada pihak lain dari mana kita
memperoleh atau menikmati barang atau jasa di masa sebelumnya. Dalam masa
sekarang identik dengan cicilan. Baik cicilan KPR, KTA, Kartu Kredit, cicilan
kendaraan bermotor, cicilan handphone atau bahkan cicilan alat-alat dapur. Walau
idealnya adalah kita tidak memiliki hutang, akan tetapi di masa sekarang ini,
dengan tingkat kebutuhan atau keinginan yang sudah banyak berkembang, berhutang
seolah sudah merupakan hal biasa dan bukan hal yang tabu lagi. Hutang juga
jangan selamanya dikonotasikan negatif, karena apabila kita dapat merencanakan
dan memanfaatkan hutang dengan baik, juga bisa menjadi salah satu cara untuk mencapai
tujuan finansial.
Hutang dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu:
1.
Hutang produktif
Hutang yang
digunakan untuk kegiatan produktif dan dapat digunakan untuk menciptakan nilai
tambah. Contohnya KPR, dimana seiring dengan waktu nilai rumah akan semakin
naik dibandingkan dengan hutang yang sudah atau akan kita lunasi. Contoh lain
misalnya hutang untuk modal kerja. Dengan laba dari hasil usaha kita akan dapat
menutup cicilan hutang kita. Saat hutang sudah dilunasi, usaha kita tetap masih
bisa berjalan.
2.
Hutang konsumtif
Hutang konsumtif
adalah hutang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Dimana
kebutuhan konsumtif ini tidak memiliki nilai produktif. Contohnya pinjaman
untuk membeli mobil atau barang lain yang
hanya untuk sekedar memuaskan hobby atau koleksi. Dalam hal ini memang
benar pembelian mobil itu menambah aset kita. Tetapi jangan salah, mobil
nilainya akan terus turun seiring dengan waktu.
Berbanding terbalik dengan
cicilan KPR rumah. Demikian juga misalnya kalau kita membeli handphone yang
tergolong mewah, dengan maksud untuk meningkatkan gengsi.
Tadi disebutkan sebelumnya bahwa
apabila kita dapat merencanakan dan memanfaatkan hutang dengan baik, juga bisa
menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan finansial. Bagaimana aturan
mainnya? Apa saja yang harus diperhatikan?
1. Membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kita dituntut
untuk memperbandingkan tingkat penghasilan dengan keinginan yang kita miliki,
supaya jangan lebih besar pasak dari pada tiang. Lebih besar pengeluaran dari
pada penghasilan. Memiliki rumah adalah
kebutuhan, tetapi memiliki rumah di lokasi elit yang posisinya berada di daerah
strategis dekat dengan pusat kota, adalah merupakan keinginan. Memiliki
kendaraan untuk menunjang mobilitas dalam bekerja juga adalah kebutuhan, akan
tetapi memiliki kendaraan offroad terbaru untuk memenuhi hobby adalah
keinginan. Intinya jangan kita memaksakan diri untuk memiliki sesuatu yang
belum kita butuhkan, apalagi penghasilan kita belum mendukung untuk itu.
2. Jumlah hutang atau cicilan yang harus anda bayar sebulan
tidak boleh melebihi 30% dari jumlah penghasilan. Apabila lebih dari 30% akan
dapat mengganggu cashflow anda, karena penghasilan anda idealnya harus
didistribusikan lagi untuk berbagai kebutuhan lainnya. Cash flow yang terganggu
akan menyebabkan adanya kebutuhan yang tidak atau kurang terpenuhi. Bisa
dikatakan keuangan anda menjadi tidak sehat.
Hutang konsumtif sebenarnya bisa
menjadi hutang produktif. Contohnya ketika anda membeli gadget melalui kredit.
Gadget memang termasuk hutang konsumtif, akan tetapi ketika anda menggunakan
gadget ini menjadi alat bekerja, jualan online misalnya, dan akhirnya
menghasilkan uang yang sebagian dari keuntungan anda gunakan untuk menutupi
cicilan gadget tersebut, maka hutang tersebut sebenarnya sudah menjadi hutang produktif.
Semakin maju jaman, semakin tinggi teknologi, jenis kebutuhanpun seolah semakin banyak ragamnya juga. Prinsip hidup sederhana harus tetap kita pegang teguh supaya kita tidak terlena dengan segala kemajuan dan kebaikan teknologi yang semakin memanjakan dan cenderung membutakan. Perencanaan keuangan yang baik dan disiplin dibutuhkan untuk dapat mencapat tujuan finansial di masa yang akan datang.
Sumber:

Comments
Post a Comment