Mencapai Kebahagiaan Bukan Mengejar Kebahagiaan
"Semua orang pasti
mencita-citakan dan menginginkan kebahagiaan. Terlepas dari makna kebahagiaan
bagi masing-masing orang yang pasti berbeda satu sama lain. Sebagian besar
orang mengaitkan kebahagaian dengan harta, jabatan atau pencapaian hidup
tertentu, dan merasa tidak bahagia sebelum mencapainya. Sebagian lagi sudah
merasa mencapai kebahagiaa ketika sudah bisa mencukupi segala kebutuhan
pokoknya dan terhidar dari segala penyakit."
“Teman kita si
anu hidupnya pasti senang dan bahagia, dapat jabatan penting di salah satu
BUMN, punya istri cantiknya kaya artis, belum lagi mobil dan rumah
barunya, cantik dan mewah sama kaya
istrinya. Duh...kapan kita bisa hidup enak
seperti dia ya. Hidupnya pasti bahagia banget?”
Kalimat seperti
ini biasa kita dengar atau kita ucapkan dalam
hidup kita sehari-hari. Dari kalimat di atas dapat kita lihat bagaimana kita mendefinisikan
“kebahagiaan” akan tetapi dengan menggunakan dasar pencapaian orang lain. Apakah
hal seperti itu dapat dibenarkan? Mari kita bahas lebih lanjut ya.
Apa sih arti kata
kebahagiaan itu?
Menurut KBBI :
bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram
(bebas dari segala yang menyusahkan): -- dunia
akhirat; hidup penuh --; 2 aberuntung; berbahagia: saya betul-betul merasa -- karena dapat berada kembali di tengah-tengah
keluarga;
berbahagia/ber·ba·ha·gia/ a 1 dalam keadaan bahagia; bahagia; 2 v menikmati kebahagiaan; bahagia;
membahagiakan/mem·ba·ha·gi·a·kan/ v 1 menjadikan (membuat) bahagia: ia berusaha keras - keluarganya; 2 mendatangkan rasa bahagia: kehadirannya sangat - keluarganya;
kebahagiaan/ke·ba·ha·gi·a·an/ n kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin: kehadiran bayi itu mendatangkan - dalam rumah tangganya; saling pengertian antara suami dan istri akan membawa - dalam rumah tangganya
Dari pengertian di atas kebahagiaan itu terdiri dari kata senang dan
tenteram, lahir maupun batin. Tidak ada kebahagiaan tanpa rasa senang. Tidak
ada kebahagiaan tanpa rasa tenteram. Senang dan tenteram keduanya adalah
indikator kebahagiaan yang saling terkait.
Dari contoh sebelumnya di atas, dapatkah kita memastikan bahwa si “Anu” telah
mencapai kebahagiaan? Terkait dengan
Indikator kesenangan, pastilah si “Anu” tersebut sudah mendapatkan kesenangan dari
pencapaian dan segala kemudahan hidup
yang dia telah nikmati, sebagai buah dari pencapaian tersebut. Akan tetapi
bagaimana dengan rasa tenteram? Apakah dia sudah merasa hidupnya
tenteram? Kita jarang mempertimbangkannya indikator ini bukan, apalagi tenteram atau tidak hanya si “Anu” sendiri
yang tahu.
Mendefinisikan suatu kebahagiaan hanya dari sisi kegembiraan atau
kesenangan semata saja adalah kesalahan dan sudah menjadi kebiasaan dalam
masyarakat kita. Akibatnya adalah banyak yang salah arah. Niatnya mencapai kebahagiaan akan tetapi secara
tidak sadar hanya mengejar kesenangan atau kegembiraan semata. Hidup senang
sudah pasti bahagia, katanya. Kesenangan yang dimaksud disini adalah terkait
dengan materi dan pengakuan dari orang lain.
Anggapannya, dengan sejumlah materi yang cukup, akan bisa menikmati
hidup sekaligus mendapat pengakuan dan penghormatan dari orang-orang sekitar. Akibatnya,
banyak yang mencari jalan pintas untuk
mencapai kesenangan ini. Korupsi untuk mendapatkan
materi yang cukup dan status sebagai orang terpandang, jual-diri untuk mengejar
pemenuhan akan gaya hidup, merampok untuk bisa berfoya-foya dan banyak lagi kelakuan-kelakuan
tidak pantas lainnya. Semuanya bahkan dilakukan
tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu lagi. Tersesat dalam mengejar
kebahagiaan dan nuraninya pun semakin buram dan akhirnya hilang. Kalau sudah begini
ketentraman pun sudah menjauh dari hidupnya, mencapai kebahagiaan sebenarnya pun
tinggal hanya sebatas angan saja.
Ada lagi contoh, dimana orang mencapai kebahagiaan hanya dengan dengan mengejar pemenuhan materi.
Si “Anu” yang terobsesi dengan pencapaian tetangganya, yang memiliki materi
yang berkecukupan dan status sebagai pejabat. Si “Anu” pun berusaha untuk memperoleh pencapaian yang
sama. Si “Anu” pun bekerja sekuat
tenaga, mencurahkan semua waktu dan pikirannya. Prestasi kerja dengan imbalan
suatu jabatan yang akan dapat menjamin kecukupan akan pemenuhan materi adalah targetnya. Si “Anu”
berharap dengan materi yang diperolehnya nanti Si “Anu” bisa membahagiakan
keluarganya dan sekaligus kebanggaan tersendiri dengan mencapai jabatan yang
dia idamkan. Dan akhirnya jabatan yang Si “Anu” inginkan pun tercapai. Akan
tetapi, akhirnya Si “Anu” jatuh sakit, karena selama ini terlalu menguras
tenaga dan pikirannya, tanpa mengindahkan waktu istirahat dan bersantai.
Keluarganyapun kacau balau akibat selama ini kurang mendapat perhatian dari Si
“Anu”. Istrinya selingkuh, anaknya masuk penjara gara-gara kasus narkoba. Kalau
sudah begini ketentraman pun sudah menjauh dari hidupnya, mencapai kebahagiaan
sebenarnya pun tinggal hanya sebatas angan saja.
Mencapai Kebahagiaan Bukan Mengejar Kebahagiaan
Apa yang membuat seseorang bahagia? Dalam bukunya, “Being Happy: A
Handbook to Greater Confidence and Security,” Andrew Matthes menyatakan bahwa
yang menentukan kebahagiaan kita bukanlah apa yang terjadi pada kita, melainkan
bagaimana reaksi kita terhadap hal-hal yang terjadi pada kehidupan kita. Kita
bertanggung jawab atas kebahagiaan itu sendiri. Untuk dapat bahagia fokuskan
pikiran kita pada pikiran-pikiran yang membahagiakan. Dan kita adalah
pengendali atas pikiran kita sendiri.
Untuk itu kita harus dapat memaknai arti kata “cukup” secara bijak dan
memiliki rasa bersyukur. Ini adalah
terkait dengan pencapaian atas kesenangan yang menjadi salah satu indikator
kebahagiaan. Karena “cukup” sebenarnya adalah relatif. Cukup buat saya belum
tentu cukup buat anda bukan? Akan tetapi kita harus belajar untuk menentukan
batas “cukup”atas kesenangan yang kita sudah peroleh, sesuaikan dengan batas
kemampuan dan kondisi kita sendiri. Janganlah brosis berharap bisa memberikan mobil
buat setiap anak brosis, seperti tetangga sebelah yang suaminya seorang
Direktur perusahaan BUMN, sedangkan brosis sendiri hanya seorang staf di sebuah
perusahaan swasta menengah saja. Satu mobil buat keluarga brosis cukuplah.
Tidaklah bijak apabila kita menaikkan level kata “cukup” ini di atas level
kemampuan kita. Maksa itu namanya brosis...hehehe.
Bagaimana dengan rasa syukur. Apa peranannya dalam pencapaian
kebahagiaan ini? Rasa syukur adalah sangat penting brosis. Dengan memiliki rasa
syukur, baik atas peristiwa senang maupun susah yang terjadi selama ini dalam
hidup kita, kita akan memiliki kesadaran diri, sadar akan kelebihan dan
kekurangan kita sendiri, dan mawas diri. Dengan mawas diri kita akan bisa
mengendalikan pikiran dan keinginan kita sendiri.
Akhir kata, kebahagiaan itu bukan hanya proses pencapaian kesenangan
hidup saja (lahir maupun batin) akan tetapi juga merupakan buah dari
pembelajaran pikiran dan mental kita
untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana dan bermartabat, sehingga kesenangan
hidup yang kita sudah capai akan disertai dengan ketentraman hidup.
So, keep happy brosis dan jangan lupa bahagia J
Sumber:
www.apcrit.com - Mencapai Kebahagiaan Bukan Mengejar Kebahagiaan

Comments
Post a Comment